Langsung ke konten utama


Judul Buku            : Padang Bulan
Judul Resensi       : Menelusuri Cerita di             
                                Padang Bulan
Penulis                   : Andrea Hirata
Jenis Buku             : Novel
Penerbit                 : PT Bentang Pustaka
Kota Terbit            : Yogyakarta
Tahun Terbit         : 2010
Tebal                      : 20,5 cm
Ukuran buku          : 13 cm x 20 cm x 1,7
                                 cm
Jumlah halaman     : xvii + 310 halaman
Harga Buku            : Rp 48.000,-
ISBN                           : 978-602-8811-30-9


            Andrea Hirata adalah salah seorang penulis novel fenomenal dan cukup terkenal di dunia Internasional. Andrea Hirata telah menerbitkan 9 novel edisi bahasa Indonesia. Dia pemenang New York Book Festival 2013 dan pemenang Buchawards 2013 di Jerman. Andrea Hirata merupakan sesosok orang yang senantiasa memperhatikan keadaan di sekelilingnya lalu ia menuliskan semuanya di dalam karya sastranya. Padang Bulan adalah salah satu novelnya yang bersifat modern yang menceritakan sosial budaya masyarakat, gaya bahasa, serta budaya yang ada di daerah tersebut.
            Di zaman yang terus mengalami perkembangan ini maka semakin banyak masalah yang kita temui. Hal ini merupakan suatu yang wajar maka dari itu, kita harus sabar dalam menghadapi setiap masalah. Dalam novel yang berjudul Padang Bulan ini mengajarkan kita untuk mengerti setiap masalah hidup dan menyadari masalah-masalah itu kemudian menyelesaikannya dengan jangan menyerah dan tetap bersemangat menjalani hidup. Kesabaran, perjuangan, dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil, karena hasil tidak mengkhinati usaha.
Novel Padang Bulan karya Andrea Hirata yang terbit tahun 2015 ini memberikan  suatu kisah yang unik dan menarik. Buku ini adalah cetakan pertama tetapi buku ini telah banyak diminati oleh para pembaca atau penggemar novel. Novel ini menyuguhkan beragam peristiwa yang saling berkaitan satu sama lain.
Novel ini menceritakan seorang gadis yang bernama Enong berusia 14 tahun, Enong merupakan seorang anak dari ayah yang bernama Zamzani dan ibunya Syalimah. Enong sangat gemar dengan pelajaran bahasa Inggris, dan ia memiliki cita-cita untuk menjadi guru bahasa Inggris. Enong sangat senang ketika ia mendapat hadiah dari ayahnya yaitu buku yang berjudul “Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata”. Namun semua mimpinya kandas ketika ia harus kehilangan ayah yang ia cintai untuk selamanya. Zamzani meninggal tertimbun tanah di pertambangan saat bekerja. Hal tersebut membuat keluarga Enong sangat terpukul, ibunya menangis dan ia terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang ibu dan ketiga adiknya.
Betapa malangnya ia yang harus pergi ke Tanjoeng Pandan untuk mencari pekerjaan. Dengan pakaian yang lusuh, ia mencoba melamar pekerjaan ke beberapa toko, dari mulai toko sembako, pasar ikan hingga warung makan Enong tetap tidak mendapat pekerjaan, banyak dari pemilik toko tersebut malah mengusir dan menyuruh pulang kerumahnya. Namun Enong tetap bersemangat ia tak menyerah sampai disana. Tubuhnya yang mungil membuatnya tidak dipercaya oleh orang-orang bahwa ia bisa bekerja. Namun apa boleh buat, ia sama sekali tidak mendapat pekerjaan selama merantau di Tanjoeng Pandan. Enong memutuskan untuk kembali pulang.
Tibalah ia di rumahnya kemudian ia meminta maaf kepada ibunya karena belum bisa member nafkah. Syalimah terharu melihat anaknya yang rela mencari pekerjaan hingga tak makan beberapa hari. Melihat ibunya yang menangis Enong bangkit, diambilnya pacul dan dulang milik ayahnya dulu kemudian sangat bersemangat dan berlari pontang-panting ke danau. Ia terjun ke danau mencari butir-butiran timah, tak peduli seberapa dalam lumpur yang membuat kakinya tenggelam. Saat itulah pendulang timah perempuan pertama telah lahir.
Namun ketika Enong mendulang timah ia di mata-matai oleh beberapa pria pendulang timah yang mempunyai lahan disana. Pria itu benci dan merasa tempat mereka mendulang timah diambil oleh gadis yang bernama Enong. Bersama anjing-anjing mereka, pria-pria tersebut mencari Enong di sungai tempat ia mendulang. Enong ketakutan, ia dikejar hingga mesuk hutan Enong tetap dikejar, anjing dengan suaranya yang seakan membunuh terus mengejar. Hingga akhirnya Enong menemui jalan buntu dan ia terjun ke jurang kemudian dia jatuh dan tenggelam di sungai. Enong terdampar dan ia terbangun, dengan nafas yang terengah-engah ia perlahan bangkit dan pulang menuju rumahnya.
            Enong trauma dengan suara anjing, ia tak berani berkata apapun sesampainya ia di rumah. Ia tidak ingin membuat ibunya merasa sedih. Hasil timah dulangannya itu ia jual walaupun sedikit hasilnya kemudian ia menyerahkan ibunya. Syalimah merasa bangga kepada anaknya Enong dan mensyukuri uang dari anaknya itu.
            Setelah lama ia menjalani kehidupan, ia kini telah dewasa dan tumbuh menjadi wanita pendulang bersama wanita-wanita yang lain. Ia mempunyai beberapa teman seperti Detektif M. Nur, dan Ikal. Demi mengejar cita-citanya kini Enong tetap melanjutkan kursus bahasa Inggris. Ikal mencintai seorang wanita Tionghoa yang bernama A Ling. Ikal sangat bersemangat mengejar A Ling walaupun wanita itu telah bersama pria lain yang bernama Zinar yang dijodohkan oleh Pak Cik ayahnya. Segala rasa cemburu terhadap Zinar ia paparkan dalam kegigihannya untuk menyaingi Zinar dengan mengikuti lomba catur, namun Ikal tetap saja kalah dengan pria tinggi dan tampan itu. Zinar adalah pria yang tinggi, tampan, pandai, dan sangat menarik sehingga A Ling berpaling pada Zinar. Berbeda dengan Ikal yang pendek, hitam, dan sangat Detektif M. Nur bersama merpatinya yang selalu mengantarkan surat untuk Ikal yang bernama Jose Rizal selalu berusaha menasehati Ikal agar mau bersabar dan melupakan A Ling.
Hingga pada akhirnya Ikal berhasil mendapatkan A Ling kembali dengan berbagai perjuangan yang keras dan gigih, berbagai puisi ia buat untuk A Ling. Kemudian mereka menikah, sehari sebelum pernikahan mereka pria berambut keriting dan ikal itu membuat puisi dari bahasa Indonesia yang berjudul Bulan di Atas Kota Kecilku yang Ditinggalkan Zaman. Puisinya itu lalu diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Enong yang kemudian diperbaiki lagi oleh Bu Indri guru kursus bahasa Inggrisnya. Kemudian pada akhirnya A Ling membaca puisi itu sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca saat acara pernikahannya. Acara pernikahan Ikal dan A Ling berlangsung dengan bahagia. Detektif M. Nur dan Enong datang ke acara pernikahannya dengan gembira. Begitu juga dengan Ikal yang tersenyum bahagia ketika A Ling bergandengan tangan dengannya.
                Novel karya Andrea Hirata yang berjudul Padang Bulan ini tidak jauh beda dengan novel yang berjudul Ayah buku ini sama-sama menceritakan bagaimana kerasnya kehidupan dan pergaulan hidup seorang anak remaja yang jatuh cinta. Demi cinta apapapun dilakukannya. Terlihat dari penggalan cerita dimana tentang tokoh Sabari, seorang lelaki yang berperawakan kurus, muka berantakan, telinga macam cantelan wajan, yang mencintai seorang perempuan cantik bermata indah dan berlesung pipi dalam bernama Marlena. Setelah memasuki babak kehidupan SMA, Sabari yang dulunya menganggap cinta adalah racun manis penuh tipu muslihat, mendadak berubah menjadi majenun (gila) cinta pada Marlena. Sabari dan Marlena bersekolah di SMA yang sama, hanya beda kelas. Bagi Sabari, sepasang mata Marlena bak purnama kedua belas yang selalu membuatnya merinding saat menatapnya. Sabari yang pandai berpuisi, mengawali dunia SMA-nya dengan membuat puisi untuk Marlena, cinta pertamanya. Namun, sayang seribu kali sayang, Marlena adalah gadis cantik yang memiliki perilaku klasik gadis cantik lainnya, Marlena berpacaran dengan berandalan sekolah, sedang Sabari, sesuai namanya, tetap sabar menerima kenyataan dan tetap mencintai Marlena bagaimanapun kondisinya.
              Air susu dibalas air tuba, begitu pepatah yang cocok bagi cinta Sabari pada Marlena. Kebencian Marlena pada Sabari nampaknya jauh lebih besar dibanding rasa cinta Sabari pada Marlena—meski Sabari tidak mau mengakuinya, baginya cinta ia pada Marlena tak dapat dikalahkan apapun—hal ini pun membuat ketiga sahabat Sabari jatuh iba pada Sabari. Ketiga sahabat Sabari yang setia itu bernama Ukun, Tamat, dan Toharun. Masing-masing adalah siswa peringkat terendah sekolah Sabari. Sudah berkali-kali ketiga sahabat itu mengingatkan Sabari untuk berpikir rasional dan mengancam Sabari bakal dimasukkan ke rumah sakit jiwa, tapi Sabari masih juga bebal. Beruntung Sabari masih punya iman, tidak sampailah ia berniat atau berpikiran bakal bunuh diri karena merananya ia akan cinta tak berbalasnya.
Dari ringkasan buku di atas, kelebihan dari novel Padang Bulan dibandingkan novel Ayah tersebut adalah buku ini cocok untuk dibaca oleh semua orang, selain ceritanya yang menarik, buku dengan soft cover ini mempunyai alur yang tak bisa ditebak. Buku ini menceritakan berbagai peristiwa kehidupan yang saling berkaitan satu sama lain secara sistematis. Kisah cerita dalam buku ini memiliki penggambaran tokoh yang dilukiskan oleh perkataan dan perbuatan sang tokoh. Selain dari itu, penulis juga banyak menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya yang dirangkai sedemikian rupa menarik sehingga ia juga selain menceritakan kisah hidup orang lain, kisah hidup dirinyapun diceritakan dalam perannya sebagai tokoh utama di dalam cerita tersebut. Andrea Hirata dapat menjelaskan setiap kejadian dengan jelas dari mulai tempat yang terjadi hingga gerak-gerik sang tokoh dapat digambarkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata yang indah, gamblang  dan puisi-puisinya yang unik, lucu, dramatik dan menarik.
Novel ini memberikan banyak pesan moral, nilai-nilai sosial, dan juga kata-kata bijak dalam menghadapi masalah dalam kehidupan di dunia salah satunya adalah amanat kepada kita untuk senantiasa bekerja keras, bersabar, bersyukur, jujur, dan bertawakal atas apa yang terjadi sehingga kita dapat berjiwa tegar dan pantang menyerah. Hal ini terlihat dalam paragraf “Pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan. Maka, pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada sesuatu dibalik itu. Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Namun sayang, tak semua dapat mengungkap rahasia itu, dan beruntunglah sedikit orang yang memahami maksud dari sebuah pertemuan.
                  Kelemahan dari buku Padang Bulan ini adalah gaya bahasanya yang menggunakan bahasa puisi, Melayu, Indonesia, juga terkadang sering menyelipkan istilah-istilah bahasa Inggris dimana sebagian kalimat kurang bisa untuk langsung dipahami sehingga sedikit membutuhkan penerjemahan kata. Contohnya adalah paragraf ini “ My heart cries out loud. Everything I feel lonely in the crowd. Getting you out of my mind. Like separating the wind from the cloud.”
Bila membaca buku ini terasa membaca buku sastra lama, padahal setting waktu novel ini mengambil garis waktu masa kini, yang sungguh aneh jika menggunakan kalimat baku dalam percakapan sehari-hari. Alur campuran yang digunakan penulis agak membingungkan, terlihat dalam paragraf “Gelap pun hinggap, tapi tak lama. Menjelang pukul sepuluh malam, purnama kedua belas yang belum sempurna ngintip-ngintip. Sebentar kemudian, langit kembali cerah. Rasi belantik dapat pandang dengan mudah.” Sehingga kemungkinan pembaca perlu membaca ulang beberapa kalimat untuk benar-benar memahami apa yang diceritakan.
Saran untuk novel ini adalah cerita sudah sangat menarik, hanya perlu sedikit perubahan pada gaya bahasanya agar pembaca lebih mudah mengerti maksud dari cerita tersebut sehingga pembaca tidak perlu untuk membaca berulang-ulang serta diharapkan novel ini dapat memberi keterangan alur yang lebih mudah dimengerti.


           

           



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Rahina Galungan

Rahina Galungan Ring Buda Kliwon Wuku Dungulan Dharma Ngelungan Adharma Dharma Sane Melaksana Luwung Galungan Rahinan Jagat … Penampahan, Lawar Jukut Balung Busung Meringit Penjor Ngadeg Kukuh Sampian Ngiasin Pamerajan  Galungan … Hari Raya Umat Hindu Bhatara-bhatari Tedun                            Rahina Galungan … Ring Parahyangan Sami Janane Ngaturang Bakti Nunas Kerahayuan lan Kerahajengan Oleh : Gusti Ayu Istri Sumadiasih