Langsung ke konten utama

Hidden Tears Hidden Dreams

Saat ini berada di kegelapan sangatlah menenangkan. Gelap ini tak akan memperlihatkan bagaimana tangis membasuh wajahnya dihadapan siapapun. Termasuk dirinya sendiri. Gita merekatkan pelukan pada bantal gulingnya. Jarum jam segera menunjuk pukul 02:00. Memang benar kata orang, pada jam ini renungan akan perasaan hati dan pikiran menjadi satu. Gita tetap menangis sampai ia benar-benar menemukan solusi atas masalah hidupnya sendiri. 

Suara burung berkicauan, sinar matahari menembus jendela kamarnya. Ia pun bangun dengan mata sembabnya. Menjalani hidupnya sebagai seorang perempuan dengan mimpi yang besar. Entah apa solusi yang telah ia putuskan. Hari ini dia tampak bersemangat berangkat kuliah. “Git, kok matamu sembab? Hm pasti habis nangis lagi ya?” Tanya Sahabatnya Raras. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tipis lalu membuka buku catatannya. Hari ini dia mendapat mata kuliah Manajemen Pariwisata Berkelanjutan.

    Di pertemuan pertama mata kuliah ini, ibu dosen memperkenalkan dirinya dan menyapa seluruh mahasiswa D4 Pengelolaan Konvensi dan Peristiwa. Mahasiswa masih bisa santai pada pertemuan pertama kuliah, karena biasanya dosen tidak akan memulai pembelajaran langsung. Namun memaparkan sistem perjanjian SKS kepada mahasiswa. Begitulah yang terjadi saat ini. Ibu Citra kemudian bertanya kepada satu persatu mahasiswanya. “Apa impian terbesar kalian? Ayo mulai dari Raras, Gita, Reno, dan yang lainnya mengikuti.” “Raras ingin menjadi akunting di hotel bu.” “kalau Saya ingin mengelilingi dunia bu” sahut Gita. Kalau saya ingin mengembangkan bisnis makanan di pariwisata bu” jawab Reno. “Mimpi-mimpi kalian semuanya hebat. Semoga kalian bisa mencapainya.” 

    “Ibu, apa ada mimpi yang mustahil?” Tanya Gita. “Gita, tidak ada yang mustahil selama kamu bekerja keras, berusaha, dan berdoa. Kamu pasti bisa melaluinya” jawab ibu dosen sambil tersenyum. Kalian adalah generasi muda penerus industri pariwisata di masa depan. Di tangan kalian lah letak kemana arah  perkembangan pariwisata kita nanti. Ibu harap suatu saat kalian bisa bijak dalam menentukan keputusan layaknya seorang pemimpin yang bisa berpikir holistik terhadap isu yang terjadi disini. 

    Bali bergantung pada industri pariwisata, memang tidak semua orang butuh berwisata, tapi tidak semua orang juga yang tidak butuh berwisata. Oleh karena itu bentuklah agar industri ini bisa berkelanjutan. Seperti yang kita ketahui sendiri bahwa pariwisata adalah sektor penyumbang devisa negara yang cepat dibandingkan kegiatan ekspor dan impor. Apa masih ada yang ingat istilahnya? 

    Gita mengangkat tangannya dan berkata “Tourism as a Quick Yeilding Industry”. “Okey good, give applause for Gita” lalu semua temannya bertepuk tangan. Motivasi Ibu Citra membuat Gita bangkit dari kesedihannya. Tamat dari SMA dia tak pernah meminta kepada Tuhan apalagi terpikirkan untuk mendapat jurusan Pariwisata. Hatinya sempat menolak, tapi kini perlahan dia mulai menerimanya. 

    Setelah setahun dia berkuliah, dia menyadari bahwa peluang industri pariwisata sangatlah besar. Ia mulai bermimpi akan bekerja di kemenpar lalu menjadi menteri pariwisata. Kalau tidak dia ingin bekerja di luar negeri lalu pulang menyelesaikan beban hutang dan tanggung jawabnya terhadap orang tuanya. Gita seorang anak yang periang, dia suka bergaul dengan siapa saja. Dia sangat menyukai kegiatan organisasi di luar kampus. Tak heran relasinya bertambah sejalan dengan hobi dan tekadnya. Tapi yang namanya mimpi tentu harus ada usaha dan pengorbanan untuk melalui berbagai hambatan-hambatan yang terjadi.  

    Saat ini ia telah kehilangan semangatnya untuk mencapai impian itu. Pandemi membuatnya kehilangan harapan. Ini adalah salah satu penyebab tangisannya di setiap malam. Ia merasakan tanahnya menangis diikuti pudarnya senyum manis pulau Bali. Isu-isu tentang pandemi membuatnya over-thinking terhadap masa depan. Pariwisata kini mati, seluruh hotel tutup, banyak pelaku industri pariwisata di phk, gulung tikar, tak ada konser musik yang ramai, tak ada hiburan yang bisa menyalurkan hobi dan passionnya. Semakin banyak orang kelaparan dan jatuh miskin. Dia pun mulai kebingungan harus bagaimana. Ia sangat mengkhawatirkan masa depannya dan  pariwisata. Dia sekarang tak memikirkan euphorianya tapi dia memikirkan pahit dan lelahnya untuk membangkitkan pariwisata Bali yang stiap saat bisa digerus oleh wabah ini. 

    Suatu hari dia pergi ke tempat dimana ia bisa bercerita banyak pada alam. Ia menikmati udara sejuknya, berjalan, lalu duduk di tepian batu-batu bekas letusan. Ia menikmati hangatnya mentari dan angin menerpa rambut panjangnya. Ia kemudian bercerita;

    Alam, aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang tega melakukan ini kepadamu. Jutaan rakyatmu kini semakin menderita. Tak ada penghasilan karena semua aktivitas dibatasi. Tapi aku yakin saat ini lah manusia harus bisa bertahan dan berjuang menghadapi realita seleksi alam. Ibarat di tampih beras, hanya beras yang berkualitas yang terpilih menjadi nasi dan bermanfaat bagi semua makhluk hidup. 

    Alam, aku bersyukur karena aku kedua orang tuaku rejekinya masih lancar meski disaat pandemi. Tapi yang selalu aku pikirkan ketika aku meminta uang atau meminta barang yang ku mau kepada mereka adalah apa nanti ketika aku juga memiliki anak, aku bisa memenuhi keinginannya? Hidupku berorientasi pada uang. Aku tahu cita-cita kecilku menjadi artist memang sangatlah konyol. Tapi apakah orang lain yang menghina bisa menghalangi ku? Tentu tidak. Aku berpikir realita, semua manusia memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan uang. Aku tahu itu, aku sama sekali tidak berharap uang yang banyak. Aku hanya ingin nanti bisa memenuhi kebutuhan hidupku dan keluargaku. Dan kini aku berada di lingkungan industri yang telah mati. 

    Alam betapa senangnya aku mendapat kiriman foto-foto luar negeri dari teman-temanku. Disana mereka juga berharap aku bisa merasakan salju dan bekerja disana. Tidak ada yang bisa menebak jalan hidup seseorang. Mimpi tetaplah mimpi yang harus diperjuangkan. Rahasia Tuhan tidak akan bisa diketahui oleh siapapun. Dikala pandemi, teman-temanku masih di luar negeri bekerja. Setidaknya ada harapan untuk mendapatkan pekerjaan disana. Sembari menunggu pariwisata Bali pulih dan membawa informasi di luar tentang inovasi pariwisata yang bisa diterapkan di Bali. 

    Alam, udara sejukmu menenangkan pikiranku. Aku merasa mendapat ide membuka bisnis dari koleksi dress yang pernah aku gunakan untuk hunting. Semoga ini menjadi langkah awal yang baik, untuk mengcover sementara semua ini. 

    Sebulan kemudian dia meresmikan Boutique Sewa Dress di Denpasar. Ia mendapat pinjaman modal dari ibunya. Supliernya dari kakak sepupunya sendiri yang mendesain dan menjahit gaun-gaun pengantin dan gaun acara formal dan non formal. Tak hanya itu boutiquenya menyewakan pakaian pengantin pria juga. Kemudian ia mengajak seluruh teman-teman photographernya bekerja sama membuat promo paket prewedding lengkap dengan make up artist dari teman-temannya yang punya usaha MUA di Bali. Bila semua keuntungan terkumpul dia akan menyisihkan  untuk disumbangkan ke masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk kegiatan kemanusiaan lalu sisanya ditabung untuk bekalnya berangkat bekerja ke luar negeri. 

    Kini dia aktif les bahasa Inggris dan Jepang agar skil linguistiknya bertambah. Ia yakin, meskipun semua masih menjadi mimpi, menuliskan semua ini seolah menjadikannya nyata sudah membuat hati Gita senang. Semoga bisa terwujud. Astungkara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Rahina Galungan

Rahina Galungan Ring Buda Kliwon Wuku Dungulan Dharma Ngelungan Adharma Dharma Sane Melaksana Luwung Galungan Rahinan Jagat … Penampahan, Lawar Jukut Balung Busung Meringit Penjor Ngadeg Kukuh Sampian Ngiasin Pamerajan  Galungan … Hari Raya Umat Hindu Bhatara-bhatari Tedun                            Rahina Galungan … Ring Parahyangan Sami Janane Ngaturang Bakti Nunas Kerahayuan lan Kerahajengan Oleh : Gusti Ayu Istri Sumadiasih
Judul Buku            : Padang Bulan Judul Resensi       : Menelusuri Cerita di                                              Padang Bulan Penulis                   : Andrea Hirata Jenis Buku             : Novel Penerbit                 : PT Bentang Pustaka Kota Terbit            : Yogyakarta Tahun Terbit         : 2010 Tebal                      : 20,5 cm Ukuran buku      ...