Langsung ke konten utama

Opini - UAS Manajemen Pariwisata Berkelanjutan

 

Konflik Budaya dalam Pariwisata Berkelanjutan di Bali

Bali adalah pulau dengan destinasi wisata yang telah dikenal dunia. Sebagai pulau yang berperan penting dalam industri pariwisata Indonesia, tentu keberlanjutan pariwisata di Bali dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan harus dilestarikan untuk generasi saat ini dan masa depan. Selain wisata alamnya, bali juga terkenal akan daya tarik wisata budayanya. Keberagaman budaya yang unik tidak hanya memberi dampak positif yaitu menjadi kunci pariwisata budaya di Bali namun juga memiliki dampak negatif khususnya pada aspek sosial.

Konflik budaya adalah salah satu dampak negatif yang terjadi pada pariwisata di Bali. Konflik ini disebabkan oleh perbedaan nilai antar sesama wisatawan dan wisatawan dengan masyarakat lokal. Keberadaan tabu lokal memang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Faktor ini mengharuskan wisatawan bisa beradaptasi dan menjaga kearifan lokal sebagai kunci pariwisata budaya Bali. Bila dilihat ke dalam perspektif dari model Jafary, pariwisata budaya dalam tahap advokasi  menyediakan lapangan pekerjaan bagi para pelaku pariwisata. Namun dalam tahap cautionary budaya menimbulkan konflik sehingga dapat merusak lingkungan sosial masyarakat seperti kasus turis yang menaiki bangunan suci pura, berperilaku kasar, bahkan mabuk-mabukan di jalan hingga mencelakai orang lain. Disini perlunya persepsi adaptancy yaitu melihat pariwisata budaya tidak hanya sekadar mencari keuntungan ekonomi namun juga persepsi berbasis edukasi tentang tabu lokal yang memberi multiflyer efek sehingga dapat mengurangi konflik budaya.

Dampak negatif dari konflik budaya dapat diminimalisir dengan menerapkan The Golden Rule yaitu perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Konsep ini memiliki persamaan dengan motto budaya di Bali yaitu Tat Twam Asi yang berarti "aku adalah engkau dan engkau adalah aku". Dengan menyadari konsep ini tentu dapat mengurangi adanya pergesekan budaya bahwa dimanapun manusia berada mereka harus tetap saling menghormati. Begitu juga para wisatawan dengan sesama wisatawan dan wisatawan dengan host community. Konsep Tat Twam Asi ini dapat disisipkan ke dalam produk pariwisata berupa pengalaman kepada wisatawan. Menikmati aktivitas sebagai orang Bali yang dekat dengan penduduk lokal seperti belajar kesenian Bali, kerajinan tangan, dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan budaya adalah pengalaman yang bisa mengedukasi dan menjadi tempat wisatawan untuk beradaptasi mempelajari hal baru sehingga dapat mengurangi konflik budaya. Turis akan me-review sekaligus mempromosikan lalu merekomendasikan sendiri kepada turis lainnya tentang kecintaanya terhadap budaya Bali sehingga konflik budaya dapat diantisipasi.

Terjadinya konflik budaya ini melewati 4 fase teori Dorsey's Irridex. Awalnya masyarakat Bali sangat menerima kedatangan wisatawan tanpa adanya aturan yang mengatur (euphoria). Kemudian masyarakat mulai mengharapkan timbal balik dengan mencari keuntungan (apathy). Selanjutnnya masyarakat mulai merasakan adanya gangguan dari kedatangan turis (annoyance) hingga akhirnya masyarakat menunjukkan rasa ketidaksukaannya (antagonism) dan terjadilah konflik antara turis dengan masyarakat lokal. Keadaan ini tentu akan menjadi hambatan bagi pariwisata berkelanjutan di Bali oleh karena itu untuk menyukseskannya perlu ada penerapan psikologi pariwisata yang tepat. Bali harus memiliki panggung belakang dan depan yang baik. Dalam artian antara kegiatan promosi dan realita harus saling mendukung dan memberikan pengalaman yang tidak jauh dari apa yang dipromosikan. Dengan demikian konflik budaya di pulau Bali dapat diatasi dengan meminimalisir promosi yang berlebihan dan memaksimalkan budaya sebagai daya tarik wisata diikuti manajemen pariwisata yang jelas, kuat, dan tegas agar terciptanya pariwisata yang berkelanjutan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Rahina Galungan

Rahina Galungan Ring Buda Kliwon Wuku Dungulan Dharma Ngelungan Adharma Dharma Sane Melaksana Luwung Galungan Rahinan Jagat … Penampahan, Lawar Jukut Balung Busung Meringit Penjor Ngadeg Kukuh Sampian Ngiasin Pamerajan  Galungan … Hari Raya Umat Hindu Bhatara-bhatari Tedun                            Rahina Galungan … Ring Parahyangan Sami Janane Ngaturang Bakti Nunas Kerahayuan lan Kerahajengan Oleh : Gusti Ayu Istri Sumadiasih
Judul Buku            : Padang Bulan Judul Resensi       : Menelusuri Cerita di                                              Padang Bulan Penulis                   : Andrea Hirata Jenis Buku             : Novel Penerbit                 : PT Bentang Pustaka Kota Terbit            : Yogyakarta Tahun Terbit         : 2010 Tebal                      : 20,5 cm Ukuran buku      ...